Cerpen
Cerpen tentang rindu seorang ayah kepada putri tercinta yang sedang menuntut ilmu di tanah rantau.
Jarak boleh membentang sejauh Yogyakarta, waktu boleh memisahkan hari demi hari, namun kasih seorang ayah tak pernah mengenal jarak.
Di setiap subuh, namamu hadir dalam doa. Di setiap malam, wajahmu datang bersama rindu.
“Pulanglah, Nak…
Bukan karena Ayah tak rela melepasmu, tetapi karena rumah selalu terasa lengkap.
Ketika Rembulan kembali, rindu Rembulan — sebuah kisah kecil tentang cinta Ayah yang tak pernah selesai.
Rindu Rembulan, waktu masih subuh, tiba-tiba saja perasaanku lain dari yang biasanya. Seketika saja terlintas dipikiranku kepada anakku yang masih menimba ilmu di rantau orang.
RINDU REMBULAN
Untuk anak perempuanku yang sedang menuntut ilmu di Yogyakarta.
Waktu masih subuh, tiba-tiba saja perasaanku lain dari biasanya.
Entah mengapa pagi itu, sebelum matahari menampakkan wajahnya, tiba-tiba saja wajahmu hadir begitu jelas dalam ingatan Ayah.
Seperti ada yang mengetuk pintu hati. Namamu. Dan seketika, rindu itu datang.
Rindu yang selama ini mungkin sengaja Ayah simpan di sudut hati, agar tidak mengganggu langkahmu mengejar cita-cita.
Nak…
Sudah lama sekali kamu tidak pulang. Rumah ini masih sama. Pintu masih di tempatnya. Kursi tempatmu biasa duduk masih ada. Bahkan beberapa barang kecil yang dulu sering kamu tinggalkan masih tersimpan sebagaimana adanya.
Tetapi ada satu yang berubah. Suasana rumah. Semenjak kamu pergi ke Yogyakarta untuk menuntut ilmu, rumah ini seperti kehilangan satu suara yang dahulu membuatnya hidup.
Dulu, Ayah kadang merasa rumah terlalu ramai.
Sekarang, ketika suara itu tidak lagi terdengar, Ayah justru merindukan keramaian itu.
Ayah rindu mendengar langkah kakimu. Rindu mendengar suaramu memanggil,
“Yah…”
Hanya satu kata.
Tetapi sekarang, satu kata itu terasa begitu mahal. Kadang Ayah sengaja duduk lebih lama di ruang tempat kita biasa berbincang. Bukan karena tidak ada pekerjaan. Tetapi karena di sana ada kenangan tentangmu. Ayah masih ingat ketika kamu kecil.
Tubuhmu mungil. Tanganmu menggenggam tangan Ayah erat-erat ketika berjalan. Kalau takut, kamu bersembunyi di belakang Ayah.
Waktu itu Ayah berpikir, mungkin selamanya kamu akan seperti itu. Tetapi waktu ternyata tidak pernah meminta izin.
Kamu tumbuh. Kamu menjadi gadis kecil yang kemudian berubah menjadi perempuan dewasa. Dan suatu hari, kamu harus pergi. Bukan karena tidak mencintai rumah. Bukan karena tidak menyayangi Ayah. Tetapi karena hidup memang meminta kamu berjalan lebih jauh.
Kamu pergi membawa buku-buku, pakaian, doa, dan sebuah impian. Ayah melepasmu dengan senyum.
Padahal, jauh di dalam hati, ada sesuatu yang terasa patah.
Namun Ayah tahu…
Cinta seorang ayah bukanlah tentang menahan anaknya agar tetap berada di rumah.
Cinta seorang ayah adalah berani melepaskan, meskipun hati sendiri belum siap kehilangan.
Maka pergilah, Nak.
Belajarlah.
Carilah ilmu sebanyak yang kamu mampu. Kenalilah dunia.
Temukan jalanmu sendiri.
Jangan takut pada jauhnya jarak.
Karena sejauh apa pun kakimu melangkah, doa Ayah akan selalu menemukan jalan untuk sampai kepadamu.
Jika suatu malam kamu merasa sendirian di kamar kecilmu di Yogyakarta, pandanglah langit.
Barangkali pada saat yang sama, Ayah juga sedang memandang langit dari rumah.
Kita mungkin tidak berada di tempat yang sama.
Tetapi kita berada di bawah langit yang sama.
Dan mungkin…
Bulan yang kamu lihat dari sana adalah bulan yang sama yang Ayah lihat dari sini.
Itulah sebabnya Ayah memanggilmu Rembulan.
Karena sejak kamu lahir, ada cahaya yang berbeda di rumah ini.
Kamu mungkin tidak pernah menyadarinya.
Tetapi seorang ayah selalu menyimpan banyak hal yang tidak pernah sempat ia katakan kepada anaknya.
Ayah bangga kepadamu. Sangat bangga.
Meski mungkin Ayah tidak selalu pandai mengatakannya.
Ayah tahu perjalananmu tidak selalu mudah.
Ada hari ketika tugas kuliah terasa berat.
Ada malam ketika kamu mungkin menangis diam-diam.
Ada saat ketika kamu merasa lelah dan bertanya kepada diri sendiri, “Bisakah aku melewati semuanya?”
Kalau hari itu datang, ingatlah satu hal.
Di rumah ada Ayah yang percaya kepadamu.
Tidak peduli berapa kali kamu gagal.
Tidak peduli seberapa berat perjalananmu. Pulanglah dalam doa.
Dan jika suatu hari kamu benar-benar merasa tidak sanggup, teleponlah Ayah.
Tidak perlu menjelaskan semuanya. Cukup katakan,
“Yah, aku capek.”
Ayah akan mengerti.
Mungkin Ayah tidak bisa datang secepat yang Ayah inginkan.
Tetapi Ayah akan tetap mendengarkan.
Karena bagi Ayah, kamu bukan sekadar seorang anak.
Kamu adalah bagian dari hidup yang tidak pernah bisa Ayah gantikan.
Pagi semakin terang.
Ayah masih duduk sendiri.
Secangkir kopi di tangan mulai dingin.
Burung-burung mulai bernyanyi di halaman.
Dan bulan perlahan menghilang dari langit.
Tetapi sebelum bulan benar-benar pergi, Ayah sempat berbisik:
“Rembulan… kapan kamu pulang?”
Bukan karena Ayah ingin mengganggu perjalananmu.
Bukan pula karena Ayah ingin membuatmu merasa bersalah.
Ayah hanya rindu.
Sesederhana itu.
Ayah rindu melihatmu membuka pintu rumah.
Rindu melihatmu meletakkan tas.
Rindu mendengar ceritamu.
Rindu melihatmu duduk di depan Ayah sambil tersenyum.
Barangkali nanti, ketika kamu pulang, Ayah tidak akan banyak bicara.
Mungkin Ayah hanya akan memandangmu lama.
Memastikan bahwa anak perempuan yang dahulu Ayah antar ke sekolah itu kini telah tumbuh menjadi perempuan dewasa.
Dan mungkin, tanpa kamu sadari, mata Ayah akan berkaca-kaca.
Bukan karena sedih. Tetapi karena bahagia.
Bahagia melihatmu kembali.
Sebab bagi seorang ayah, rumah bukan sekadar tempat untuk pulang.
Rumah adalah tempat di mana nama anak-anaknya selalu disebut dalam doa.
Dan namamu, Nak…
Selalu ada di sana.
Setiap subuh.
Setiap malam.
Di antara doa-doa yang tidak pernah Ayah bosan panjatkan.
Semoga Tuhan menjaga langkahmu di tanah rantau.
Semoga ilmu yang kamu cari menjadi cahaya hidupmu.
Semoga segala lelahmu menjadi jalan menuju masa depan yang indah.
Dan semoga, suatu hari nanti…
Ketika pendidikanmu telah selesai dan cita-citamu telah kau genggam,
kamu pulang.
Bukan sebagai anak kecil yang dahulu pergi meninggalkan rumah.
Tetapi sebagai perempuan dewasa yang telah menemukan jalan hidupnya.
Saat itu, Ayah mungkin sudah tidak sekuat sekarang.
Rambut mungkin telah semakin putih.
Langkah mungkin semakin lambat.
Tetapi percayalah…
Ada satu hal yang tidak akan pernah tua:
rindu Ayah kepadamu.
Rindu itu akan tetap tinggal.
Seperti rembulan yang selalu kembali ke langit setelah malam berganti.
Dan jika suatu hari nanti kamu membaca tulisan ini, ketahuilah…
Ayah tidak pernah benar-benar melepasmu.
Ayah hanya melepaskan tanganmu dari genggaman.
Selebihnya…
Ayah menitipkanmu kepada Tuhan.
Sebab Ayah tahu,
anak perempuan yang dicintai dengan doa, tidak pernah benar-benar jauh.
Rembulan boleh jauh di Yogyakarta.
Tetapi cahayanya…tetap tinggal di rumah ini.
Dan di hati Ayah.
Selamanya.






