STUDYKU SUKSES, CINTAKU TERGADAI

Cerpen

STUDYKU SUKSES, CINTAKU TERGADAI

Bacaan Lainnya

Oleh Sitat

Empat tahun bukan waktu yang sebentar.

Selama itu aku meninggalkan kampung halaman demi satu impian: melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Aku ingin pulang suatu hari nanti dengan membawa gelar, kebanggaan, dan masa depan yang lebih baik.

Di kampung, ada seseorang yang selalu menungguku.

Dia adalah kekasihku.

Sebelum berangkat, kami pernah berjanji.

“Tunggulah aku. Setelah studiku selesai, aku akan pulang dan menikahimu.”

Dia tersenyum waktu itu. Aku percaya pada senyumnya. Aku percaya pada cintanya.

Begitu juga dia, mungkin percaya pada janjiku.

Namun, waktu ternyata punya cerita sendiri.

Empat tahun berlalu. Akhirnya aku pulang.

Koper masih berada di tanganku ketika kakiku menginjak tanah kampung yang sudah lama kurindukan. Ada rasa bahagia yang sulit dijelaskan. Dalam pikiranku hanya ada satu nama.

Aku ingin segera menemuinya.

Tetapi sebelum sempat aku mencari alamat rumahnya, seorang teman lama menghampiriku.

Dia memandangku beberapa saat, seolah-olah berat untuk mengatakan sesuatu.

“Kau sudah dengar kabarnya?”

Aku menggeleng.

“Kabar apa?”

Ia menarik napas panjang.

“Dia sudah menikah.”

Dunia seolah berhenti.

Aku terdiam.

Senyum yang sejak tadi menghiasi wajahku perlahan hilang.

“Menikah…?”

Temanku mengangguk.

Aku mencoba tersenyum, tetapi bibirku terasa kaku.

Empat tahun aku pergi mengejar masa depan.

Empat tahun aku belajar, berjuang, menahan rindu, dan meyakinkan diri bahwa suatu hari nanti aku akan kembali untuknya.

Ternyata ketika aku pulang, dia sudah menjadi milik orang lain.

Malam itu aku duduk sendirian di beranda rumah.

Ijazah yang selama ini menjadi kebanggaanku tergeletak di atas meja.

Aku menatapnya lama.

Aku berhasil.

Studyku sukses.

Cita-citaku tercapai.

Tetapi untuk pertama kalinya aku merasa keberhasilan itu tidak sempurna.

Sebab di balik keberhasilan itu, ada satu hal yang telah hilang.

Cintaku.

Aku membuka ponsel dan melihat foto lama kami. Foto ketika kami masih muda, ketika masa depan terasa begitu sederhana.

Aku tersenyum dalam kesedihan.

“Ternyata aku terlalu sibuk mempersiapkan masa depan, sampai lupa bahwa seseorang yang kucintai juga memiliki waktu untuk menentukan masa depannya.”

Aku tidak menyalahkannya.

Mungkin dia pernah menungguku.

Mungkin dia pernah berharap aku segera pulang.

Namun waktu yang terlalu panjang akhirnya mengajarinya untuk melepaskan.

Malam semakin larut.

Aku menutup foto itu dan menatap langit.

“Selamat atas pernikahanmu. Semoga lelaki yang menggantikanku mampu membuatmu bahagia.”

Air mata jatuh tanpa bisa kutahan.

Aku berhasil mendapatkan gelar yang kuimpikan.

Tetapi kehilangan seseorang yang pernah menjadi alasan terbesar mengapa aku ingin memiliki masa depan.

Studyku sukses…

Namun cintaku tergadai oleh waktu.

Dan sejak malam itu, aku mengerti satu hal:

Tidak semua yang kita tinggalkan demi masa depan akan tetap menunggu ketika kita kembali.

Malam semakin larut.

Aku masih duduk sendirian di beranda, ditemani suara jangkrik dan angin yang perlahan menyentuh wajahku. Di tanganku masih tergenggam foto lama kami.

Foto yang dulu membuatku tersenyum, kini justru membuat dadaku terasa sesak.

Aku mengusap wajah, mencoba menahan air mata.

“Kalau saja waktu bisa diputar kembali…”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Kalau saja aku tahu bahwa empat tahun akan mengubah segalanya, mungkin aku akan lebih sering pulang. Mungkin aku akan lebih sering mengabarinya. Mungkin aku akan menyempatkan diri untuk sekadar bertanya, “Kamu masih menungguku?”

Tapi penyesalan selalu datang ketika semuanya sudah terlambat.

Aku membuka pesan terakhir darinya yang tersimpan di ponselku. Pesan itu sudah bertahun-tahun tidak pernah kubalas.

“Jangan lupa pulang. Aku akan menunggumu.”

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

Air mataku akhirnya jatuh.

Bukan karena aku membencinya.

Bukan pula karena aku menyalahkannya.

Aku menangis karena akhirnya sadar, seseorang yang pernah berjanji menungguku ternyata juga manusia. Ia bisa lelah. Ia bisa kecewa. Ia bisa memilih jalan hidupnya sendiri.

Dan mungkin, akulah yang terlalu lama membuatnya menunggu.

Aku menatap langit yang gelap.

“Maaf…”

Hanya satu kata itu yang mampu keluar dari bibirku.

“Maaf karena aku datang ketika kamu sudah bukan milikku lagi.”

Untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa tidak semua perjuangan berakhir dengan memiliki.

Ada perjuangan yang berakhir dengan kehilangan.

Ada cinta yang harus direlakan, meskipun hati masih ingin mempertahankannya.

Aku berdiri, lalu memasukkan foto kami kembali ke dalam kotak kecil tempat aku menyimpan kenangan.

Besok aku akan kembali menjalani hidup.

Aku akan bekerja dengan gelar yang sudah kuraih. Aku akan mengejar cita-cita yang dulu kami bicarakan bersama.

Namun kali ini, aku akan melakukannya dengan sebuah ruang kosong di dalam hati.

Sebuah ruang yang mungkin tidak akan pernah terisi oleh siapa pun.

Sebelum masuk ke rumah, aku menoleh sekali lagi ke arah jalan yang dulu sering kami lewati bersama.

Dalam hati aku berbisik:

“Terima kasih pernah mencintaiku.”

“Terima kasih pernah menungguku.”

“Dan maaf karena ketika aku akhirnya pulang, kamu sudah menemukan rumahmu pada hati lelaki lain.”

Aku tersenyum di antara air mata.

Aku tidak mendapatkanmu.

Tetapi aku berharap, hidup memberimu kebahagiaan yang dulu gagal kuberikan.

Malam itu aku akhirnya mengerti—

Aku memang berhasil menyelesaikan studiku. Aku berhasil meraih masa depan yang kuimpikan.

Tetapi ada harga yang harus kubayar untuk semua itu.

Aku kehilangan seseorang yang dulu berjanji akan menungguku sampai aku pulang.

Dan mungkin, inilah kisah cinta paling menyakitkan dalam hidupku:

Aku pergi meninggalkannya untuk mengejar masa depan, tanpa sadar bahwa masa depan yang kuperjuangkan ternyata tidak lagi memiliki dirinya di dalamnya.

Studyku sukses.

Karierku menunggu.

Masa depanku terbuka lebar.

Namun setiap kali pulang ke kampung halaman, ada satu kenyataan yang selalu membuat langkahku terasa berat—

perempuan yang dulu ingin kujadikan tujuan akhir, kini hanya bisa kukunjungi dalam kenangan.

Pertemuan yang Tak Pernah Dibayangkan

Sore itu, setelah sekian lama berada di kampung, akhirnya aku melihatnya.

Ia berjalan keluar dari sebuah toko kecil di pinggir jalan. Wajahnya masih sama seperti empat tahun lalu, tetapi ada sesuatu yang berbeda. Senyumnya lebih dewasa. Tatapannya lebih tenang.

Aku berdiri terpaku.

Ia pun melihatku.

Langkahnya terhenti.

Beberapa detik kami hanya saling memandang tanpa sepatah kata pun.

Kemudian ia tersenyum kecil.

“Sudah pulang?”

Aku mengangguk.

“Iya… baru beberapa hari.”

“Bagaimana studimu?”

Aku tersenyum tipis.

“Alhamdulillah, selesai.”

“Selamat.”

“Terima kasih.”

Hening.

Begitu banyak kata yang ingin kusampaikan, tetapi semuanya seakan hilang ketika berdiri di hadapannya.

Akhirnya aku memberanikan diri bertanya.

“Aku dengar… kamu sudah menikah.”

Ia menundukkan kepala.

“Iya.”

“Bahagia?”

Ia diam sejenak, lalu tersenyum.

“Insyaallah.”

Aku mengangguk pelan.

“Syukurlah.”

Padahal di dalam hati, ada sesuatu yang terasa runtuh.

Ia menatapku.

“Kamu marah?”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

“Kecewa?”

Aku tersenyum pahit.

“Mungkin… sedikit.”

Ia menatapku lama.

“Aku dulu menunggumu.”

Kalimat itu membuat dadaku sesak.

“Aku tahu.”

“Tapi kamu tidak pernah pulang.”

“Aku sedang mengejar cita-citaku.”

“Aku tahu.”

“Dan aku pikir kamu akan tetap menungguku.”

Ia tersenyum getir.

“Aku juga dulu berpikir begitu.”

Aku terdiam.

Kemudian ia melanjutkan dengan suara perlahan.

“Setiap kali ada orang bertanya kapan aku menikah, aku selalu bilang, ‘Tunggu dia pulang.’”

Aku menundukkan kepala.

“Tapi tahun demi tahun berlalu. Kabar darimu semakin jarang. Aku mulai berpikir mungkin hidupmu di sana sudah berubah.”

“Aku tidak pernah melupakanmu.”

“Aku percaya.”

Aku menatapnya.

“Kalau kamu percaya, kenapa kamu menikah?”

Matanya berkaca-kaca.

“Karena akhirnya aku sadar… menunggu seseorang yang tidak tahu kapan akan pulang juga bisa membuat hati seseorang lelah.”

Aku tidak mampu menjawab.

Ia menghapus air mata yang hampir jatuh.

“Aku pernah sangat mencintaimu.”

“Aku juga.”

“Kalau begitu, kenapa kita tidak bersama?”

Aku tersenyum sedih.

“Karena mungkin kita saling mencintai pada waktu yang salah.”

Ia terdiam.

Angin sore melewati kami.

Untuk beberapa saat, kami kembali seperti dua orang asing yang sedang mengingat masa lalu.

Aku lalu berkata,

“Maaf.”

“Untuk apa?”

“Karena aku pulang terlambat.”

Ia tersenyum.

“Jangan minta maaf. Kamu tidak salah mengejar masa depanmu.”

“Tapi aku kehilangan kamu.”

“Dan aku menemukan hidupku.”

Kalimat itu begitu sederhana, tetapi terasa seperti pisau yang perlahan menembus hati.

Aku mengangguk.

“Semoga suamimu menjagamu lebih baik daripada aku.”

Ia tersenyum sambil menahan air mata.

“Semoga kamu juga menemukan seseorang yang bisa membuatmu bahagia.”

Aku tertawa kecil.

“Entahlah. Mungkin tidak akan ada yang seperti kamu.”

“Jangan berkata begitu.”

“Kenapa?”

“Karena hidup harus terus berjalan.”

Aku memandang wajahnya untuk terakhir kalinya.

Dulu, aku ingin wajah itu menjadi wajah yang kulihat setiap pagi.

Dulu, aku ingin menggenggam tangannya sepanjang hidup.

Sekarang, bahkan untuk sekadar mengucapkan selamat tinggal pun aku harus belajar mengikhlaskan.

Sebelum pergi, ia berkata pelan,

“Jangan lagi menungguku.”

Aku menatapnya.

“Aku tidak pernah menunggumu.”

Ia tersenyum.

“Kamu masih seperti dulu. Masih pandai menyembunyikan perasaan.”

Aku ikut tersenyum.

“Dan kamu masih seperti dulu… masih bisa membaca hatiku.”

Ia berjalan pergi.

Aku tidak memanggilnya.

Tidak juga mengejarnya.

Aku hanya berdiri dan melihat punggungnya semakin jauh.

Sampai akhirnya ia menghilang di tikungan jalan.

Saat itu, air mataku jatuh.

Bukan karena aku ingin merebutnya kembali.

Tetapi karena aku akhirnya benar-benar sadar—

perempuan yang selama empat tahun kusimpan dalam doa, kini harus kulepaskan dalam doa pula.

Aku menatap langit sore dan berbisik,

“Terima kasih pernah menungguku.”

“Maaf aku datang terlambat.”

“Semoga pernikahanmu menjadi rumah yang jauh lebih bahagia daripada mimpi-mimpi yang dulu pernah kita bangun bersama.”

Lalu aku berjalan pulang.

Sendirian.

Dengan ijazah di tangan…

dan kenangan tentang seseorang yang pernah menjadi alasan aku ingin segera pulang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *