REFLEKSI 27 TAHUN KABUPATEN PELALAWAN: APA YANG DAPAT DIBANGGAKAN?

REFLEKSI 27 TAHUN KABUPATEN PELALAWAN: APA YANG DAPAT DIBANGGAKAN?

Oleh: HM Rojuli

Bacaan Lainnya

Dua puluh tujuh tahun bukan waktu yang singkat.

Kabupaten Pelalawan telah melewati perjalanan panjang sejak berdiri sebagai daerah otonom. Silih berganti pemimpin, berganti kebijakan, berganti slogan pembangunan, dan triliunan rupiah anggaran telah digelontorkan untuk membangun daerah.

Namun, ketika usia Kabupaten Pelalawan memasuki 27 tahun, ada satu pertanyaan yang patut diajukan secara jujur dan terbuka:
Apa yang benar-benar dapat kita banggakan?

Pertanyaan ini bukan untuk menafikan seluruh keberhasilan yang telah dicapai. Bukan pula untuk menyudutkan pemerintahan tertentu. Justru sebaliknya, pertanyaan ini penting agar perjalanan 27 tahun Pelalawan tidak hanya dirayakan dengan seremoni, spanduk, pidato dan slogan, tetapi menjadi momentum untuk melakukan evaluasi secara jujur.

Sebab ukuran keberhasilan sebuah daerah bukanlah seberapa meriah ulang tahunnya dirayakan, melainkan seberapa besar perubahan nyata yang dirasakan masyarakat.

Jangan Hanya Bangga dengan Angka

Selama 27 tahun, tentu banyak pembangunan yang telah dilakukan.

Jalan dibangun, gedung pemerintahan berdiri, fasilitas pendidikan dan kesehatan bertambah, investasi masuk, sektor perkebunan berkembang, dan berbagai program pemerintah terus berjalan.
Tetapi pembangunan tidak boleh berhenti pada daftar proyek.

Masyarakat berhak bertanya: apa dampaknya terhadap kehidupan mereka?

Apakah pendapatan masyarakat meningkat?
Apakah anak-anak Pelalawan mendapatkan pendidikan yang semakin berkualitas?
Apakah pelayanan kesehatan semakin mudah dan manusiawi?
Apakah petani dan pekebun semakin sejahtera?
Apakah desa-desa semakin maju?
Apakah lapangan pekerjaan tersedia bagi generasi muda?

Dan yang paling penting, apakah kekayaan alam Pelalawan telah memberikan manfaat yang adil bagi masyarakatnya?
Inilah ukuran sesungguhnya sebuah daerah maju.

Bukan sekadar berapa kilometer jalan yang dibangun, berapa gedung yang didirikan, atau berapa besar APBD yang terserap.

Pelalawan Kaya, Tetapi Masyarakat Harus Tetap Bertanya
Pelalawan bukan daerah miskin sumber daya alam.

Kabupaten ini memiliki kekayaan perkebunan, kehutanan, industri dan berbagai potensi ekonomi lainnya. Aktivitas investasi dan industri berskala besar telah menjadikan Pelalawan sebagai salah satu wilayah strategis di Riau.

Tetapi kekayaan alam tidak otomatis berarti kesejahteraan masyarakat.

Di sinilah paradoks pembangunan harus dibicarakan.

Sebuah daerah dapat kaya secara sumber daya, tetapi masyarakatnya masih menghadapi persoalan ekonomi. Infrastruktur dapat dibangun, tetapi akses dan kualitas pelayanan publik belum tentu merata. Investasi dapat tumbuh, tetapi masyarakat lokal belum tentu menjadi pelaku utama dalam rantai ekonominya.
Karena itu, pertanyaan kritisnya bukan hanya:
Berapa banyak investasi yang masuk ke Pelalawan?

Tetapi:
Berapa besar manfaat investasi itu kembali kepada masyarakat Pelalawan?
Pertanyaan tersebut jauh lebih penting.

27 Tahun, Jangan Sampai Pembangunan Hanya Menghasilkan Bangunan

Pembangunan yang baik bukanlah pembangunan yang sekadar meninggalkan bangunan fisik.

Gedung yang megah tetapi tidak dimanfaatkan secara optimal pada akhirnya hanya menjadi monumen kegagalan perencanaan.

Proyek yang menelan anggaran besar tetapi tidak memberikan manfaat berkelanjutan harus menjadi bahan evaluasi.

Begitu pula program pemerintah yang setiap tahun berganti nama, tetapi persoalan masyarakat tetap sama.

Dalam konteks inilah pemerintah daerah harus berani melakukan evaluasi terhadap seluruh aset dan program pembangunan yang telah menghabiskan uang rakyat.

Mana yang berhasil? Mana yang mangkrak? Mana yang tidak lagi dimanfaatkan? Dan siapa yang harus bertanggung jawab ketika sebuah proyek tidak memberikan manfaat sebagaimana yang direncanakan?

Uang negara bukan uang tanpa pemilik.

Di dalam setiap rupiah APBD terdapat hak masyarakat.
Karena itu, setiap rupiah yang dibelanjakan pemerintah seharusnya dapat dipertanggungjawabkan bukan hanya secara administratif, tetapi juga secara moral kepada rakyat.
Jangan Takut Membuka Catatan Masa Lalu

Refleksi tidak boleh hanya memuji.

Refleksi juga harus berani membuka halaman yang mungkin tidak nyaman.

Selama 27 tahun tentu ada kebijakan yang berhasil. Tetapi pasti ada pula kebijakan yang keliru, proyek yang tidak maksimal, perencanaan yang tidak tepat, bahkan mungkin aset daerah yang tidak terurus.

Semua itu tidak boleh ditutup dengan alasan bahwa “yang sudah berlalu biarlah berlalu”.

Justru masa lalu harus dibuka untuk memastikan kesalahan yang sama tidak diulang.

Pemerintah hari ini tidak harus bertanggung jawab atas seluruh kesalahan pemerintahan masa lalu. Tetapi pemerintah hari ini memiliki tanggung jawab untuk memastikan persoalan masa lalu tidak menjadi beban bagi generasi berikutnya.

Bagaimana dengan Pendidikan?

Salah satu ukuran paling penting kemajuan sebuah kabupaten adalah kualitas sumber daya manusianya.

Pelalawan tidak boleh hanya menjadi daerah penghasil komoditas dan tempat berdirinya industri besar.

Pelalawan harus mampu mencetak manusia-manusia unggul.

Karena itu, keberadaan perguruan tinggi, sekolah berkualitas, pendidikan vokasi dan pusat-pusat pengembangan keterampilan harus menjadi prioritas.

Jangan sampai anak-anak muda Pelalawan harus pergi jauh untuk mendapatkan pendidikan berkualitas, sementara daerahnya sendiri memiliki sumber daya ekonomi yang besar.

Lebih ironis lagi apabila pembangunan fasilitas pendidikan menghabiskan anggaran besar, tetapi kemudian tidak dimanfaatkan secara optimal.
Jika itu terjadi, yang gagal bukan hanya sebuah bangunan.
Yang gagal adalah perencanaan pembangunan manusia.

Lingkungan: Harga yang Tidak Boleh Dibayar Terlalu Mahal

Pelalawan juga menghadapi persoalan lingkungan yang tidak boleh dianggap remeh.

Kebakaran hutan dan lahan, kabut asap, persoalan tata kelola perkebunan, tekanan terhadap kawasan hutan, pencemaran dan konflik pemanfaatan ruang merupakan persoalan yang harus ditempatkan sebagai agenda pembangunan.

Tidak ada gunanya mengejar pertumbuhan ekonomi jika lingkungan akhirnya rusak.

Sebab ketika sungai tercemar, hutan hilang, udara tercemar dan lahan rusak, masyarakatlah yang membayar biayanya.

Karena itu, investasi harus dihargai, tetapi investasi yang merusak lingkungan tidak boleh diberi karpet merah.

Pembangunan ekonomi dan perlindungan lingkungan bukan dua pilihan yang harus dipertentangkan. Keduanya harus berjalan bersama.

Lalu, Apa yang Bisa Dibanggakan?

Jawabannya sebenarnya ada.
Pelalawan patut bangga memiliki masyarakat yang mampu bertahan dan berkembang di tengah perubahan zaman.

Pelalawan patut bangga dengan potensi ekonomi yang besar.
Pelalawan patut bangga dengan sumber daya alamnya.

Pelalawan patut bangga dengan anak-anak mudanya yang terus menuntut ilmu dan membangun masa depan.
Pelalawan patut bangga dengan desa-desa yang terus tumbuh.
Tetapi jangan berhenti pada potensi. Potensi bukan prestasi.
Kekayaan alam bukan otomatis kesejahteraan. APBD besar bukan otomatis pembangunan berhasil.
Banyaknya proyek bukan otomatis masyarakat sejahtera.
Dan banyaknya investasi bukan otomatis daerah maju.

Yang patut dibanggakan adalah ketika seluruh potensi itu benar-benar dikonversi menjadi kesejahteraan masyarakat.

27 Tahun Harus Menjadi Titik Balik

Momentum 27 tahun Kabupaten Pelalawan seharusnya tidak hanya menjadi agenda seremonial. Ini harus menjadi titik evaluasi.

Pemerintah daerah perlu berani membuat semacam “rapor 27 tahun Pelalawan”.
Berapa capaian pembangunan?
Berapa aset yang produktif?
Berapa proyek yang berhasil?
Berapa proyek yang bermasalah?
agaimana angka kemiskinan?
Bagaimana pengangguran?
Bagaimana kualitas pendidikan?
Bagaimana pelayanan kesehatan?
Bagaimana kondisi infrastruktur?
Bagaimana pengelolaan lingkungan?
Dan yang paling penting:
Apakah masyarakat Pelalawan hari ini benar-benar lebih sejahtera dibandingkan 27 tahun lalu?
Jika jawabannya belum sepenuhnya, maka tidak ada alasan untuk berpuas diri.

Jangan Wariskan Seremoni, Wariskan Peradaban

Pada akhirnya, sejarah tidak akan menilai Pelalawan dari seberapa banyak baliho ulang tahun yang dipasang.

Sejarah akan menilai dari apa yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Apakah kita mewariskan jalan yang baik?
Sekolah yang berkualitas?
Rumah sakit yang melayani rakyat?
Lingkungan yang sehat?
Ekonomi yang kuat?
Pemerintahan yang bersih?

Ataukah kita hanya mewariskan gedung, proyek, utang pembangunan, persoalan lingkungan dan daftar panjang persoalan yang belum selesai?
Itulah pertanyaan terbesar pada usia 27 tahun.

Pelalawan tidak membutuhkan sekadar kebanggaan administratif karena telah berusia 27 tahun.
Pelalawan membutuhkan keberanian untuk bercermin. Jika ada yang baik, pertahankan.
Jika ada yang salah, perbaiki.
Jika ada yang gagal, evaluasi.
Jika ada penyimpangan, proses sesuai hukum.
Jika ada aset yang terlantar, selamatkan.
Dan jika ada kebijakan yang tidak lagi relevan, jangan takut mengubahnya.

Sebab pemerintahan yang kuat bukan pemerintahan yang selalu mengatakan dirinya berhasil.

Pemerintahan yang kuat adalah pemerintahan yang berani mengakui kekurangan, membuka data kepada publik, dan memperbaiki kesalahan.

Dua puluh tujuh tahun Pelalawan seharusnya bukan sekadar perayaan bertambahnya usia.
Ia harus menjadi pertanyaan tentang kualitas perjalanan.

Dan pada akhirnya, rakyat berhak bertanya:
Setelah 27 tahun berdiri, sebenarnya sudah sejauh mana Pelalawan berjalan?

Serta pertanyaan yang lebih tajam:

Jika kekayaan alamnya besar, anggarannya ada, dan pembangunan terus dilakukan—mengapa kesejahteraan rakyat masih harus menjadi pekerjaan rumah?

Pertanyaan itu tidak perlu ditakuti. Justru pertanyaan itulah yang harus dijawab dengan data, kerja nyata dan keberanian politik.

Selamat 27 tahun Kabupaten Pelalawan. Jangan hanya bertambah usia. Bertambah pula kualitas pembangunan, kesejahteraan rakyat dan keberanian untuk berbenah.

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *