SEPULUH TAHUN BUNDA BERISTIRAHAT DI TANAH SUCI
Sepuluh tahun telah berlalu, Bunda.
Waktu boleh berjalan, musim boleh berganti, tetapi kenangan tentangmu tak pernah benar-benar pergi.
Tahun 2016, kami sekeluarga datang ke Tanah Suci untuk memenuhi panggilan Allah, menunaikan rukun Islam yang kelima. Kami datang bersama dengan hati penuh syukur dan harapan untuk kembali ke tanah air membawa kenangan indah.
Namun, tiga hari sebelum kepulangan, Allah menuliskan takdir yang tidak pernah kami bayangkan.
Bunda pergi dengan tenang, tanpa sakit, di Tanah Suci Makkah Al-Mukarramah.
Sedih rasanya harus pulang tanpa Bunda.
Tetapi di balik air mata, ada sebuah keyakinan yang menenangkan hati: Bunda tidak pergi sembarang tempat. Bunda dipanggil menghadap Allah di tanah yang dirindukan jutaan umat Islam.
Barangkali itulah cara Allah menutup perjalanan hidup Bunda—setelah memenuhi panggilan-Nya, lalu menetapkan Tanah Suci sebagai tempat terakhir perjalanan duniawinya.
Bunda, sepuluh tahun bukan waktu yang singkat. Namun kerinduan seorang anak kepada ibunya ternyata tidak mengenal batas waktu.
Kini kami hanya mampu mengirimkan doa:
“Ya Allah, ampunilah dosa Bunda kami, rahmati beliau, lapangkan dan terangilah tempat peristirahatannya, terimalah seluruh amal ibadahnya, dan tempatkanlah beliau di antara hamba-hamba-Mu yang Engkau cintai.”
Jika dahulu kami menangis karena kehilangan, hari ini kami belajar untuk tersenyum karena pernah memiliki seorang Bunda yang begitu berarti.
Kematian bukan akhir dari kasih sayang. Ia hanya memisahkan tempat, bukan doa dan cinta.
Selamat beristirahat dalam kasih sayang Allah, Bunda.
Sepuluh tahun berlalu, tetapi namamu masih hidup dalam doa kami.
Semoga suatu hari nanti Allah mempertemukan kembali kita di tempat yang tidak ada lagi perpisahan: Jannatul Firdaus.
Al-Fatihah untuk Bunda tercinta.
Mutiara hikmahnya:
“Ada orang yang berpulang di rumahnya, ada yang berpulang di negeri orang, dan ada yang dipanggil Allah di Tanah Suci. Kita tidak pernah tahu di mana akhir perjalanan kita, tetapi kita boleh berharap: semoga Allah menutup usia kita dalam keadaan beriman dan diridhai-Nya.”
“Sepuluh tahun kehilangan Bunda mengajarkan satu hal: waktu dapat menghapus air mata dari pipi, tetapi tidak akan pernah menghapus cinta seorang anak kepada ibunya.”
“Bunda telah pergi dari pandangan mata, tetapi tidak pernah pergi dari hati. Setiap doa yang kami panjatkan adalah cara kami memelukmu dari kejauhan.”
Tulisan ini dipersembahkan memperingati 10 tahun meninggalnya ibunda kami Hj Kalsum di tanah suci Mekkah Al Mukaromah.
Oleh: HM Rojuli






