Anies Baswedan: Karakter Memberi Arah, Kompetensi Memberi Daya, Teknologi Memberi Jangkauan

Anies Baswedan: Karakter Memberi Arah, Kompetensi Memberi Daya, Teknologi Memberi Jangkauan

Universitas Paramadina menyelenggarakan talkshow bertajuk “Integritas Karakter, Kompetensi, dan Teknologi dalam Pendidikan di Indonesia” dalam rangkaian Open House Kampus Cikarang. Kegiatan ini menghadirkan Anies Baswedan, Ph.D., sebagai pembicara utama dan dimoderatori oleh Lina Anggraeni, M.I.Kom., pada Rabu (1/4) di District 1 Meikarta, Cikarang, Bekasi.

Bacaan Lainnya

Dalam pemaparannya, Anies, yang juga mantan rektor Universitas Paramadina, menekankan pentingnya ruang perjumpaan reflektif di lingkungan kampus. Ia menyampaikan bahwa silaturahmi dan interaksi membuka peluang lahirnya inspirasi serta pembelajaran baru. “Silaturahmi interaksi membuat kita punya kesempatan untuk mendapatkan hasil, ada potensi mendapatkan hasil. Setiap ada perjumpaan reflektif, kita akan mendapatkan pengalaman, bisa dalam bentuk inspirasi.”

Mendikbud RI pada Kabinet Kerja (2014-2016) ini menjelaskan bahwa Universitas Paramadina memiliki tradisi kuat dalam menghadirkan tokoh-tokoh berpengaruh untuk berdialog dengan mahasiswa. Menurutnya, ekosistem ini memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk memperluas jejaring, mendapatkan inspirasi, sekaligus mendapatkan pembelajaran langsung dari pengalaman para tokoh bangsa.

“Makanya Universitas Paramadina memiliki posisi khusus dalam konstelasi pemikiran di Indonesia. Meskipun ukurannya kecil secara jumlah mahasiswa tetapi potensi pengaruhnya besar, small but giant.”

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu, melainkan sebagai ruang pembentukan manusia yang dapat dipercaya. “Universitas memiliki tanggung jawab mendidik seseorang untuk dapat dipercaya. Tantangan pendidikan tinggi hari ini melahirkan lulusan yang cakap dan pada saat yang sama bisa dipercaya.”

Di tengah kemudahan memperoleh gelar dan akses informasi yang semakin luas, ia mengingatkan bahwa kepercayaan publik justru menjadi sesuatu yang mahal. Oleh karena itu, pertanyaan mendasar bagi kampus bukan sekadar berapa banyak lulusan yang dihasilkan, melainkan jenis manusia seperti apa yang dilepas ke masyarakat.

Menurutnya, kampus adalah fase terakhir sebelum seseorang memasuki dunia otoritas dan pengambilan keputusan. Karena itu, pendidikan tinggi tidak boleh berhenti pada penguasaan keterampilan teknis. “Masalah kita bukan kekurangan orang pintar, tetapi sering kali membiarkan kecerdasan berjalan tanpa kompas moral.”

Ia juga mengingatkan bahwa berbagai kerusakan sosial kerap justru dilakukan oleh orang-orang terdidik yang memiliki kecakapan teknis, namun kehilangan orientasi moral. “Dokumen ditulis dengan rapi, laporan disusun dengan baik, teknologi dipakai dengan lihai tetapi bisa diarahkan untuk menutup-nutupi, mengakali aturan, mengamankan kepentingan sempit.”

Karena itu, integrasi antara karakter, integritas, kompetensi, dan teknologi harus menjadi tema utama pendidikan Indonesia ke depan. “Karakter memberi arah, kompetensi memberi daya, teknologi memberi jangkauan, ketiganya harus menyatu.”

Mengutip gagasan Ki Hadjar Dewantara, ia menegaskan bahwa pendidikan adalah proses menuntun dan memberi arah, agar kemampuan tidak terseret pada kepentingan sesaat.

Anies menjelaskan bahwa karakter dalam pendidikan tinggi adalah kemampuan menjaga batas ketika ada kesempatan untuk menyimpang. Karakter dibangun melalui kebiasaan yang terus dilatih hingga menjadi budaya. Ia mencontohkan praktik pembelajaran antikorupsi sebagai bagian dari upaya mengurangi potensi penyimpangan sejak dini.

Dalam konteks kompetensi abad ke-21, ia mengingatkan bahwa perubahan berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan pembaruan kurikulum. “World Economic Forum mencatat 39% keterampilan kerja saat ini akan menjadi usang pada tahun 2030.”

Karena itu, menurutnya, ada kompetensi inti yang harus dikuatkan di luar aspek teknis. “Jadi kita harus mencari core competence yang harus dimiliki di luar yang teknis. Jadi minimal ada 2: critical thinking dan analytical thinking.” Ia menambahkan pentingnya kemampuan belajar ulang (learning skill) agar lulusan tidak panik menghadapi perubahan.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa digitalisasi memiliki nilai penting dalam membangun integritas sistem. “Nilai digitalisasi itu pada kejernihan. Sistem digital menyimpan jejak; karena ada jejak maka membuat pola, karena ada pola maka bisa memperlihatkan konsistensi dan inkonsistensi.”

Dalam pandangannya, banyak penyimpangan hidup di ruang gelap dan proses yang tidak meninggalkan jejak. Karena itu, kampus perlu membangun sistem yang transparan dan terbuka, sehingga integritas tidak hanya menjadi pesan moral, tetapi juga menjadi praktik sistemik yang bisa diperiksa kapan saja.

Ia juga menekankan pentingnya meritokrasi dalam ekosistem pendidikan. “Meritokrasi sesuatu yang ditumbuhkembangkan di ruang keluarga dan ruang kelas atau kampus.” Mahasiswa perlu merasakan bahwa prestasi dan kinerja benar-benar mengantarkan pada promosi dan posisi, baik melalui capaian akademik maupun non-akademik.

Di akhir paparannya, Anies mengajak peserta untuk melihat kampus sebagai ekosistem pertumbuhan. “Ekosistem kampus itu seperti analogi, benih yang baik perlu tanah yang subur. Tanah yang subur perlu iklim yang sehat.”

Ia menegaskan bahwa pribadi yang baik, jika ditempatkan dalam lingkungan yang sehat dan sistem yang benar, akan tumbuh menjadi individu yang memberi manfaat luas bagi masyarakat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *